SMAN 1 Leuwimunding “Beri Nafas” Bumi: Aksi Biopori Sukses Digelar di Tengah Padatnya Agenda Prestasi dan Organisasi

Majalengka – Kesibukan luar biasa mewarnai SMAN 1 Leuwimunding (SM1LE) pada penghujung Januari 2026. Namun, di tengah hiruk-pikuk kompetisi olahraga dan pematangan program organisasi, warga sekolah membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tetap menjadi prioritas utama.

Selama dua hari, Kamis dan Jumat (29–30 Januari 2026), sekolah bertransformasi menjadi laboratorium alam. Kolaborasi apik antara Pengurus Pramuka, OSIS, Dewan Guru, dan seluruh siswa berhasil menyulap lahan sekolah menjadi area resapan air produktif melalui pemasangan Lubang Resapan Biopori (LRB).

Manajemen Waktu Kelas Wahid: Antara Stadion, Ruang Rapat, dan Kebun

Pelaksanaan kegiatan ini menjadi bukti nyata ketangguhan mental siswa SM1LE dalam membagi fokus (multitasking):

  • Kamis (29/01): Solidaritas Dua Arah. Saat sebagian hati warga sekolah tertuju ke Stadion Warung Jambu untuk mendukung Tim Sepak Bola yang sedang berlaga di Liga Pelajar, “pasukan hijau” di sekolah tetap bekerja tak kenal lelah. Di bawah komando Dewan Guru, siswa yang berada di sekolah mengambil peran sebagai garda terdepan pelestari lingkungan. Suara dukungan untuk tim bola digantikan oleh semangat gotong royong memutar alat bor tanah.
  • Jumat (30/01): Dari Pena ke Tanah. Tantangan berlanjut di hari kedua. Pengurus OSIS dan MPK dihadapkan pada jadwal Rapat Kerja (Raker) yang krusial. Namun, sebelum duduk di meja bundar untuk menyusun visi organisasi, mereka menyempatkan diri turun ke lapangan. Sinergi tercipta indah saat seragam Pramuka dan OSIS berbaur, bahu-membahu menanam pipa biopori sebelum melanjutkan agenda intelektual di ruang rapat.

Mengapa Biopori? Solusi Cerdas untuk Lingkungan Sekolah

Kegiatan ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan sebuah langkah saintifik untuk mitigasi bencana. Lubang sedalam 80-100 cm yang dibuat siswa memiliki fungsi vital:

  1. Pencegah Genangan: Lubang ini meningkatkan daya serap tanah hingga 40 kali lipat, solusi efektif mencegah “banjir cileuncang” saat hujan deras melanda Leuwimunding.
  2. Pabrik Kompos Alami: Siswa diajarkan untuk mengisi lubang dengan sampah organik (daun kering). Sampah ini akan menjadi makanan bagi biota tanah (cacing), yang kemudian mengubahnya menjadi pupuk kompos subur bagi tanaman sekolah.

“Kami ingin menanamkan pola pikir bahwa sampah organik adalah sahabat, bukan musuh. Dengan Biopori, kita memberi makan tanah, dan tanah akan menjaga kita dari banjir. Ini adalah pelajaran biologi dan geografi yang dipraktikkan langsung secara nyata,” jelas Koordinator Kegiatan Lingkungan Hidup SMAN 1 Leuwimunding.

Warisan untuk Masa Depan

Aksi yang berlangsung selama dua hari ini berhasil menanam puluhan titik biopori baru di zona-zona rawan genangan. Keringat yang menetes dari para siswa, guru, dan pengurus organisasi selama dua hari yang super sibuk ini adalah investasi jangka panjang.

SMAN 1 Leuwimunding membuktikan diri tidak hanya piawai mencetak atlet bola atau pemimpin organisasi yang handal, tetapi juga mencetak “Eco-Warriors” (Pejuang Lingkungan) yang siap menjaga kelestarian bumi.

Lestari Alamku, Jaya Sekolahku!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Sekolah Lainnya

Pengumuman

INFORMASI DAFTAR ULANG SPMB TAHAP 2

Prestasi

English Speech Contest
Festifal Lomba Seni &a...

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman